manusia berjalan membawa dahaga,
mencari setetes kasih
di antara debu amarah dan luka.
Lalu datanglah ia,
bukan sebagai raja dengan mahkota emas,
melainkan hati yang memayungi langit,
dan senyum yang meneduhkan jiwa-jiwa letih.
Ia mengajarkan bahwa kelembutan
lebih kuat daripada pedang,
bahwa memaafkan
adalah kemenangan para pecinta Tuhan.
Ketika dihina,
ia tidak menanam dendam di dadanya.
Ketika disakiti,
ia justru mendoakan tangan yang melukai.
Seolah hatinya adalah laut,
dan kebencian manusia hanyalah batu kecil
yang tenggelam tanpa mampu mengeruhkan.
Wahai manusia,
lihatlah akhlaknya—
ia menyapa yatim seperti saudara,
memuliakan fakir seperti bangsawan,
dan mendudukkan perempuan
di singgasana kehormatan.
Ia berjalan tanpa kesombongan,
padahal bumi mengenal namanya
hingga ke ujung zaman.
Ia tidur di atas tikar sederhana,
padahal para malaikat berdiri menghormatinya.
Dan aku berkata kepadamu:
bukan mukjizat yang paling agung dari dirinya,
melainkan hatinya
yang tetap bercahaya
di tengah gelapnya manusia.
Sebab akhlak adalah bahasa surga
yang diterjemahkan ke bumi
melalui langkah seorang nabi.
Maka barang siapa ingin menemukan Tuhan,
jangan hanya melihat langit,
tetapi lihatlah bagaimana ia mencintai,
bagaimana ia memaafkan,
dan bagaimana ia menangis
untuk umat yang bahkan belum pernah melihat wajahnya.
Begitulah sang nabi hidup
bagai pelita di tengah malam panjang,
yang habis terbakar demi memberi cahaya
kepada jiwa-jiwa yang kehilangan arah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar